Hari yang Tak Pernah Senja Hari yang Tak Pernah Senja - Pusat Semangat

Hari yang Tak Pernah Senja

Hari yang Tak Pernah Senja

Setiap hari dan setiap pagi dia mengayuh sepeda antiknya yang dibuat sekitar pada zaman penjajahan Belanda. Namun cat hitam bercampur silver agak tipis masih melekat kuat karena memang benar-benar dirawat. Dengan sadel yang baru digaanti sore kemarin sepulang rapat. Dia semakin merasa nyaman mengayuhnya walau sudah beberapa kilometer  jalan telah dijelajahinya. Seperti duduk di atasa sofa mewah milik konglomerat, membuat dia mengayuh makin semangat dan tampak sangt menikmati perjalanan di pagi hari itu dengan ceria.

Meskipun jalannya masih tampak prmitif, sepertinya telah tertinggal dari peradaban. Sepeda antik masih bugar sebugar pengendaranya. Sepeda istimewa, sepeda yang suka jajan. Tak apalah yang penting setia walau hampir tiap bulan harus ganti ban sebanyak 4 kali. Terpaksa harus potong penghasilan. Asalkan dapat sampai tujuan berjumpa para pejuang muda pewaris negeri ini di medan ilmu bernama sekolah.

Dia lebih memilih memakai sepeda biar lebih hemat biaya. Tidak perlu surat-surat yang bikin ribet, bebas parkir, dan juga tidak bakalan kena sidang di jalan. Agar tidak banyak waktu yang yang tersita sehingga dapat sampai pada tempat yang dituju tanpa masalah panjang. 

Sesampai dia di surganya, berjumpa anak-anak di taman yang sedang menunggu tanda masuk dibunyikan. Ada yang berbincang-bincang, ada yang sarapan, ada yang lari-lari, dan ada pula yang khusus menyambut lelaki yang tak lagi muda itu di gerbang sekolah. Meski usianya masih beranjak menuju dewasa, dia lebih suka model jaman dulu. Sederhana tampilannya tidak mewah dan bersahaja. Itu demi para pasukannya yang masih butuh bimbingan dan teladan yang patut.

Hari yang Tak Pernah Senja
Senyum, itulah hadiah pagi itu yang selalu dia bagikan GRATIS kepada sesiapa yang dia temuai di mana dan kapan pun. Wajah optimis dan manis itu mampu menyihir setiap yang memandangnya menjadi bahagia. Begitulah yang dirasakan anak-anak yang menyengaja diri menyambut dia sebelum tanda itu berbunyi. Dengan alasan agar mereka dapat lebih semangat belajar di kelas karena sejak semester kemarin mereka tak lagi diajar olehnya. Mereka harus menunggu dua bulan berikutnya untuk kembali mendengarkan kalimat-kalimat ajaib yang mampu menyemangati mereka darinya, sang guru muda berwajah cerah seperti kita...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel