Jadi Ayamkuh? (Sebuah Cerpen) Jadi Ayamkuh? (Sebuah Cerpen) - Pusat Semangat

Jadi Ayamkuh? (Sebuah Cerpen)


Jadi Ayamkuh?

Ini sebuah kisah anak remaja yang baru kelas dua sma. Dia bernama Adi. Anak ke dua dari pasangan, Bapak Zakariyah dan Ibu Annisah. Adi memiliki kebiasaan sehari-hari mengurus ayam kesayangannya. Dia setiap hari, sebelum dia sarapan dia terlebih dahulu memberi makan ayamnya. Sebelum makan siang pun dia lebih dahulu memberi makan ayam sebelum dia makan. Kecuali malam hari, dia tidak memberi makan karena dia sudah memberikannya selepas shalat Ashar.

Suatu hari adi harus tinggal bersama neneknya,  Zubaedah karena orang tuanya harus pergi ke luar kota beberapa hari mengantarkan kakaknya yang akan memulai pendidikannya di perguruan tinggi negeri. Adi tidak seperti biasanya wajahnya saat itu sejak sepulang sekolah cahaya di wajahnya seakan lenyap. Beribu tanya dalam benak sang nenek, ada apa dengan cucunya ini.
“Adi, udah makan?” neneknya membuka pembicaraan
Dia hanya melihat sebentar neneknya mungkin karena tersentak lalu dia hanya menggelengkan kepalanya saja.
“Loh kenapa? Sekarangkan biasanya waktu makan siangmu”

Dia teringat ayamnya, dan langsung bangkit dari sofa yang empuk di ruang tamu itu menuju kandang ayamnya. Neneknya hanya diam saja, karena ayamnya sedang di bawa kakeknya, Abdulloh untuk dicek kesehatannya di puskesmas.
Kaget Adi ketika melihat ayamnya tidak di tempatnya maka seketika itu Adi pun lari menghadap neneknya.
“Nek, ayam ku mana?”
“Udah, makan dulu sana! Nenek bikinin makan spesial buat Adi.” Sambil tersenyum dan menenangkan anak itu.
“Tapi ayamku mana?”
“Nanti habis makan nenek ceritain.”

Adi pun langsung menuju ruang makan.
“Jangan lupa cuci tangan dulu.” Sambung neneknya
Neneknya mengikutinya dibelakang sambil menyimpan pertanyaan yang belum mendapat jawaban dari cucunya yang dari pulang sekolah melamun saja. Sepertinya ada kerisauan di hatinya.
Adi mulai menghadap meja makan, neneknya duduk di sampingnya.
“Adi, ada masalah ya? Kok dari tadi nenek lihat ngelamun terus. Sakit?” sambil memegang keningnya, mengecek
“Nggak nek, perasaan Adi lagi kacau hari ini.”
“Kacau kenapa? Kalo sama nenek ungkapin saja, kali saja nenek bisa bantu. Jangan di simpan sendiri, ga baik buat kesehatan.” Neneknya penasaran.

Adi malu-malu mengungkapkan apa yang ada di benaknya. Namun dia tetap menceritakannya karena menurutnya menceritakan masalahnya akan menambah berkurang masalahnya.
“Begini nek. Tiap hari Adi datang ke sekolah selalu tepat waktu. Tugas selalu dikerjakan dengan baik. Hasil ulangan juga memuaskan.”
“Sepertinya itu bukan masalah Di” neneknya heran
“Iya sih nek, itu bukan masalah. Tapi itu membuat perasaan Adi kacau”
Neneknya tambah heran lagi. Mengapa cucunya yang menurutnya bukan masalah tetapi bagi dia itu masalah baginya.
Jadi Ayamkuh? (Sebuah Cerpen)

Tiba-tiba Adi mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. Neneknya menanggapinya dengan senyuma ramah. Kertas itu adalah surat dari seseorang yang menyukainya karena pribadi Adi yang indah. Anaknya cakep, soleh, plus prestasinya OK, siapa sih yang tidak suka padanya. Surat itu dari seseorang yang memang menjadi bintang kelas di sekolahnya. Siapa pula yang tidak tertarik padanya. Dalam surat itu dia memohon untuk dapat menjalin hubungan seperti budaya yang legi tenar sekarang bernama pacaran.

Nafsunya menginginkan namun jiwanya menolak. Sungguh pertarungan yang dahsyat. Setelah membacanya, nenek itu mengelus pundaknya, menenangkannya.
“Sebenarnya apa yang kamu rasakan sekarang itu adalah fitrah, manusia semua memiliki fitrah, menyukai kepada kebaikan. Tapi setelah nenek membaca surat ini nenek ingat saat nenek tersadar dahulu di masa seusiamu. Nenek mendapat nasehat dari seorang sahabat yang terjaga kesucian jiwanya. Ia memperlihatkan kepada nenek dua potong daging ayam. Karena pada waktu itu nenek dan dia satu kosan semasa kuliah. Maka nenek sekarang juga akan menyampaikannya kepadamu.”
Sembari membuka tutup makanan di meja makan nenek mengeluarkan sepiring daging ayam yang sudah digoreng. Ukurannya hampir sama dengan ayam peliharaannya. Maka Adi pun menyimpan curiga. Namun Adi sudah menyetujui akan mendengarkan penjelasan neneknya seusai makan siang.
“Jika nenek sediakan di hadapanmu dua potong daging ayam yang sebelumnya dari kandang yang sama, besarnya sama, usianya sama, tapi yang satu disembelih dengan bismillah dan yang satunya lagi tanpa bismillah, kemudian nenek potong dengan ukuran yang sama, dikasih bumbunya sama, digoreng di tempat yang sama, wanginya juga sama kemudia nenek sediakan keduanya di di sini, mana yang kamu pilih untuk dimakan?”

Maka adipun menjawab, “Yang memakai bismillah dong nek, sudah jelas sehat dan halalnya.”
“Begitu juga dengan urusan yang kamu hadapi sekarang cucuku. Bila kamu menerima ajakan dia, itu sama artinya kamu memakan daging ayam yang disembelih tanpa bismillah. Sebab hubungan yang seperti itu hanya akan menimbulkan penyakit di hatimu sebab ia tidak halal bagimu dan dia tidak suci hatinya bagimu.” Neneknya menjelaskan
“Lalu apa yang Adi lakukan sekarang nek?”

Neneknya menyambung, “Perasaan ini adalah fitrah cucuku, tak usah dihilangkan namun harus dikendalikan semampumu. Makanya Rasulullah SAW mengajarkan kepada para pemuda yang belum siap berumahtangga agar mereka melaksanakan shaum untuk menentramkan hati mereka agar tidak diperbudak hawa nafsu. Sampaikan nasehat nenek pula kepadanya, agar dia mengerti betapa tak ternilai kemuliaan dirinya jika dia mau menjaga kesucian hatinya. Bukankah segalanya Allah telah menggariskan dan Dia selalu memberikan cara yang terbaik? Insya Allah segalanya indah bila sudah waktunya.”

Tampaknya remaja ini sudah tenang dan memahami semua nasihat wanita itu.
“Baik nek, Adi sudah faham semua dan insya Allah Adi akan menyampaikan nasehat nenek padanya”
Adi memang sudah lapar namun perasaan itu membuat rasa itu hilang. Namun setelah mendapat nasehat itu, dia langsung mengambil piringnya dan mengambil nasi dari magic com. Dengan diawali do’a dia memulai suapannya. Diambilnya paha ayam menemani nasi putih yang hangat. Nikmat sekali rupanya ketika makan saat sudah lapar. Seperti pula meminum ketika benar-benar haus meskipun hanya seteguk air. Begitu lahapnya Adi makan siang. Ini membuat neneknya sengang.

Usai makan adi menenangkan diri sebelum setengah empat untuk pergi shalat di mesjid depan rumahnya. Saat itu pula neneknya menceritakan tentang ayamnya.
“Nek, ayamku di mana?” Adi memulai pembicaraan.
“Sebenarnya tadi habis shalat dzuhur, nenek pergi mau ngasih makan ayammu. Kan biasanya diberi makan siang habis kamu shalat. Pas nenek lihat ayammu tidak bisa jalan, mungkin habis tarung sama ayam nenek. Makanya ayammu dibawa kakek ke puskesmas. Tadi dapat SMS dari kakek, ayammu harus di rawat”
“Jadi ayamkuh. Ayamkuuuuuuuu!”
Adi lari menuju tempat ayamnya dirawat seakan tak kuat mendengarkan kabar ayam kesayangannya tak berdaya.
Begitulah sebuah kisah persahabatan seorang anak dengan ayam peliharaannya. Semoga bermanfaat...........................................



Inspirasi:
“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” (12:23)

Iklan di TV

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel