Pemuda Kece Ini Dijamin Masuk Surga Pemuda Kece Ini Dijamin Masuk Surga - Pusat Semangat

Pemuda Kece Ini Dijamin Masuk Surga

Masa muda atau usia remaja adalah saat orang-orang mulai mengenal dan merasakan manisnya dunia. Pada fase ini, banyak pemuda lalai dan lupa, jauh sekali lintasan pikiran akan kematian ada di benak mereka. Apalagi bagi mereka orang-orang yang kaya, memiliki fasilitas hidup yang dijamin orang tua. Mobil yang bagus, uang saku yang cukup, tempat tinggal yang baik, dan kenikmatan lainnya, maka pemuda ini merasa bahwa ia adalah raja.
Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang pemuda yang kaya, berpenampilan rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia. Ia adalah Mush’ab bin Umair. Ada yang menukilkan kesan pertama al-Barra bin Azib ketika pertama kali melihat Mush’ab bin Umair tiba di Madinah. Ia berkata,
رَجُلٌ لَمْ أَرَ مِثْلَهُ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ الجَنَّةِ
“Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga.”
Pemuda Kece Ini Dijamin Masuk Surga

Ia adalah di antara pemuda yang paling tampan dan kaya di Kota Mekah. Kemudian ketika Islam datang, ia jual dunianya dengan kekalnya kebahagiaan di akhirat.
Mush'ab bin Umair salah seorang diantara para sahabat Nabi. Ia seorang remaja Quraisy terkemuka, gagah dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan.  Para ahli sejarah melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: "Seorang warga kota Makkah yang mempunyai nama paling harum." 

Mush'ab lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Makkah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya sebagaimana yang dialami Mush'ab bin Umair.
Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah-bibir gadis-gadis Makkah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan meningkat menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan? 
Suatu hari, anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga Makkah mengenai Muhammad Al-Amin, yang mengatakan dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagai dai yang mengajak umat beribadah kepada Allah Yang Maha Esa. 


Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam. 


Maka pada suatu senja, didorong oleh kerinduannya, pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah SAW sering berkumpul dengan para sahabatnya, mengajarkan mereka ayat-ayat Alquran dan mengajak mereka beribadah kepada Allah Yang Maha Akbar.


Baru saja Mush'ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat Alqur'an mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush'ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran di kalbunya.
Khunas binti Malik yakni ibunda Mush'ab, adalah seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat, Ia wanita yang disegani bahkan ditakuti. Ketika Mush'ab memeluk Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri. 


Bahkan walau seluruh penduduk Makkah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush'ab akan menganggapnya enteng. Tapi tantangan dari ibunya, bagi Mush'ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah. 


Demikianlah ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majelis Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya.


Berdirilah Mush'ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Makkah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat Alquran yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketakwaan.


Ketika sang ibu hendak membungkam mulut putranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai, ketika melihat cahaya yang membuat wajah putranya berseri cemerlang itu kian berwibawa. Karena rasa keibuannya, ibunda Mush'ab tak jadi menyakiti putranya. Dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya dengan rapat.


Demikianlah beberapa lama Mush'ab tinggal dalam kurungan sampai saat beberapa orang Muslimin hijrah ke Habasyah. Mendengar berita hijrah ini Mush'ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lalu pergi ke Habasyah melindungkan diri. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muslimin, lalu pulang ke Makkah. 


Kemudian ia pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para sahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.
Pada Suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah SAW. Demi memandang Mush'ab, mereka menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush'ab memakai jubah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka—pakaiannya sebelum masuk Islam—tak ubahnya bagaikan kembang di taman, berwarna-warni dan menghamburkan bau yang wangi. 


Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati. Pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia, seraya berkata, "Dahulu aku lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya."


Suatu saat Mush'ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan agama Islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan berbaiat kepada Rasulullah di bukit Aqabah. Di samping itu, ia juga mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijrah Rasulullah sebagai peristiwa besar.


Sebenarnya, di kalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush'ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada Mush'ab. Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib Agama Islam di kota Madinah.


Mush'ab memikul amant itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa pikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam. Ketika tiba di Madinah pertama kali, ia mendapati kaum Muslimin tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah baiat di bukit Aqabah. Namun beberapa bulan kemudian, meningkatlah jumlah orang-orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.



Tetapi di kota Makkah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. Mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana mengikuti setiap langkah dan menyelusuri setiap jejak. Kebetulan seorang yang bernama Utsman bin Thalhah melihat Mush'ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi. Kemudian pada hari yang lain dilihatnya pula ia shalat seperti Muhammad SAW. Secepat kilat ia mendapatkan ibu Mush'ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya.

Mush'ab memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah diterapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaknya mengikuti pola hidup Rasulullah SAW yang diimaninya yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka.

Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zurarah. Ia bersama As’ad mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci Rabbnya, yang telah dia ketahui, mereka berdua menyampaikan kalimat Allah “bahwa Allah adalah Ilah Yang Maha Esa” secara hati-hati.
Mush’ab pernah menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri dan sahabatnya, yang nyaris celaka jika tanpa kecerdasan akal dan kebesaran hiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba disergap oleh Usaid bin al-Hudhair, pemimpin kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menolong Mush’ab dengan belati yang terhunus.
Dia sangat murka dan sakit hati menyaksikan Mush’ab yang datang untuk menyelewengkan kaumnya dari agama mereka, membujuk mereka agar meninggalkan tuhan-tuhan mereka, dan menceritakan Allah Yang Maha Esa yang belum pernah mereka ketahui sebelum itu.
Saat kaum muslimin yang sedang duduk bersama Mush’ab melihat kedatangan Usaid bin al-Hudhair dengan membawa kemurkaan, mereka pun merasa khawatir. Tetapi Mush’ab tetap tenang, dan menunjukkan kegembiraan. Usaid berdiri di depan Mush’ab dan As’ad bin Zurarah, seraya berkata, “Apa maksud kalian datang ke kampong kami? Apakah kalian hendak membodohi orang-orang yang lemah di antara kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika kalian tidak ingin mati!”

Dengan tenang, penuh kelembutan dan sopan santun, Mush’ab berkata, “Mengapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai, anda dapat menerimanya. Sebaliknya, jika tidak, kami akan menghentikan apa yang anda benci.”
Usaid adalah sosok yang cerdas dan berakal, dia melihat bahwa Mush’ab mengajaknya berdialog dan meminta pertimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Dia pun melemparkan belatinya ke tanah dan duduk mendengarkan. Ketika Mush’ab membacakan ayat-ayat al-Qur’an dan menguraikan seruan yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hati Usaid mulai terbuka, berdetak beriringan mengikuti naik turunnya suara, serta meresapi keindahannya. Belum selesai Mush’ab menyampaikan uraiannya, Usaid kemudian berkata kepada orang-orang yang bersamanya, “Alangkah indah dan benarnya ucapan itu. Apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk agama ini?”
Mereka pun menjawabnya dengan tahlil, kemudian Mus’ab berkata kepada Usaid, “Hendaklah ia menyucikan badan dan pakaiannya, serta bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi selain Allah.”
Setelah itu Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali dengan rambut yang masih meneteskan air sisa bersuci. Ia kemudian mengikrarkan dua kalimat syahadat.
Berita keislaman Usaid menyebar dengan cepat, disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz, dan setelah itu Sa’ad bin Ubadah. Dengan keislaman mereka bertiga, selesailah persoalan dengan berbagai suku di Madinah. Warga Madinah berdatangan dan beriman dengan apa yang disampaikan oleh Mush’ab bin Umair.
Hari berganti, dan tibalah perintah Allah untuk berhijrah ke Madinah. Setelah itu meletuslah perang Badar yang berakhir dengan kekalahan telak yang dialami kaum kafir Quraisy. Perang Uhud pun menjelang, dan kaum muslimin bersiap-siap mengatur barisan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di tengah barisan sambil membawa bendera perang. Beliau pun memanggil Mush’ab untuk membawa panji perang kaum muslimin.
Perang pun berkecamuk awalnya pasukan muslimin unggul, namun pasukan pemanah melanggar perintah RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggalkan posisinya di puncak bukit sehingga pasukan kaum muslimin dikagetkan oleh serangan balik pasukan berkuda Quraisy dari balik bukit. Ketika musuh melihat barisan kaum muslimin porak poranda, mereka pun mengalihkan serangan ke arah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuh beliau. Mush’ab menyadari ancaman yang mengintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun mengangkat panji perang setinggi-tingginya dan bertakbir sekeras-kerasnya. Memfokuskan tenaganya untuk menarik perhatian musuh, sehingga mereka lupa dari tujuan mereka membunuh Rasulullah.
Walaupun seorang diri, Mush’ab bertempur dengan gagah berani, musuh kian bertambah banyak, mereka hendak menyebrang dengan menginjak-nginjak tubuhnya untuk mencapai posisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ibnu Sa’ad menuturkan, “Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-Abdari menceritakan kepada kami dari ayahnya, dia berkata, ‘Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera muslimin di Perang Uhud. Tatkala berisan kaum muslimin kocar-kacir, Mush’ab tetap bertahan pada posisinya. Ibnu Qami’ah datang berkuda, lalu menebas lengan kanannya hingga putus. Mush’ab mengucapkan, ‘Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang utusan, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa utusan.’ Kini ia memegang bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula.
Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan, ia mendekap bendera ke dada sambil mengucapkan, ‘Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang utusan, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa utusan.’ Musuh menyerangnya kembali dengan tombak, dan menusukannya hingga patah, Mush’ab akhirnya gugur, dan bendera perang itu pun jatuh.’”
Setelah perang usai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat yang masih tersisa meninjau medan pertempuran. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, air mata beliau mengucur deras. Khabbab bin al-Arrats menuturkan, “Kami hijrah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengharap ridha Allah, maka Allah memberikan balasan kepada kami. Di antara kami ada yang meninggal dan belum mendapatkan balasan (dunia) sedikit pun. Kami tidak mendapatkan sesuatu untuk mengkafaninya (Mush’ab bin Umair) kecuali sepotong kain. Jika kami menutup kepalanya, kedua kakinya tersingkap. Dan jika kami menutup kakinya, kepalanya tersingkap. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
Tutuplah kepalanya dengan kain (mantel) dan tutuplah kakinya dengan idzkir (rumput berbau harum yang biasa digunakan dalam prosesi penguburan).”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di depan jasad Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang penuh dengan kasih sayang. Beliau membacakan ayat di hadapannya,
Dan di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.” (Al-Ahzab: 23).
Kemudian dengan penuh rasa iba, beliau memandangi kain yang digunakan untuk menutupi jasad Mush’ab, seraya bersabda, “Ketika di Mekkah dulu, tidak ada seorang pun yang aku lihat lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripada dirimu. Namun sekarang, engkau (gugur) dengan rambutmu yang kusut masai dan hanya dibalut sehelai kain.”

Setelah itu pandangan beliau tertuju ke medan pertempuran dimana jasad-jasad syuhada rekan-rekan Mushab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi pada hari Kiamat nanti bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah.”

0 Response to "Pemuda Kece Ini Dijamin Masuk Surga"

Post a Comment

Ada Pertanyaan atau Komentar?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel