Hari Raya Semakin Bertambah, Kok Bisa? Hari Raya Semakin Bertambah, Kok Bisa? - Pusat Semangat

Hari Raya Semakin Bertambah, Kok Bisa?

Inovatif atau apa namanya orang yang bisa memodivikasi sesuatu yang telah ada menjadi sesuatu yang lebih wah. Kreatif orang yang membuat sesuatu yang sebelumnya belum ada menjadi ada. Begitulah pembahasan kali ini, entah kreatif ataukah inovatif dalam agama sehingga mampu menghasilkan ibadah baru berupa bertambahnya jumlah hari raya.

Atau malah sebaliknya, hanya ikut-ikutan saja alias nyontek sehingga mengada-adakannya di masyarakat karena meriah dan bisa menambah omzet.

Lagi-lagi dilatari ekonomi. Politik ekonomi yang sudah ada sebelum nabi Muhammad shalallah alaihi wa salam dilahirkan. Tepatnya zaman jahiliyah sebelum beliau diutus oleh Allah subhanahu wata'ala. Tujuannya supaya banyak orang yang berziarah tetapi malah menjauh dari ajaran yang sebenarnya.

Masyarakat di Arabia sebenarnya punya tradisi monoteisme sebagaimana halnya bangsa Israel, dan mereka juga dahulunya menyembah satu tuhan, yakni tuhannya Ibrahim. Hal ini bisa kita tilik dari sejarah orang Arab yang merupakan keturunan Ismail (bangsa Israel merupakan keturunan Ishaq). Karena berasal dari satu nenek moyang, yakni Ibrahim yang monoteis, maka jelas dahulunya orang Arab adalah pemeluk agama tauhid. Namun seiring waktu, keyakinan monoteisme Arab bergeser dan mulailah paganisme dan politeisme menjadi keyakinan mereka. Walau demikian mereka masih mengaitkan Allah dengan tuhan-tuhan pagan mereka, antara lain, seperti disebutkan dalam QS 53:19-21, Latta, Uzza dan manat adalah “anak-anak perempuan Allah”. Selain itu, Allah juga masih disebutkan dalam nama-nama orang Arab, sebagai contoh ayah dari Rasulullah bernama Abdullah. Abdullah berarti “Hamba Allah”, padahal beliau sudah meninggal saat Rasulullah belum lahir.

Hari Raya Semakin Bertambah, Kok Bisa?

Agama-agama yang pernah ada di Arab sebelum masuknya Islam, antara lain adalah, Al-Muwahhidun (yang mengesakan Tuhan), penyembah berhala (watsani), Yahudi, Nasrani, Penyembah matahari dan bulan, Dahriyun (atheis), Shabi'in (penyembah bintang), Zindiq, Majusi(penyembah api), penyembah malaikat dan jin, kelompok yang mempercayai duaTuhan, yaitu Tuhan yang berbuat kebaikan dan Tuhan yang melakukan perbuatan jahat.

Mereka dahulu telah mengikuti agama Nabi Ibrahim. Karena terputus dengan nabi sebagai juru penerang, meraka lantas kembali lagi menyembah kepada selain Allah. Seperti kaum terkuat di Makkah, kaum Quraisy sebagai ahlul Kabah yang awalnya mengukut agama tauhid beralih menjadi penyembah berhala. Berhala-berhala mereka buat dari batu dan ditegakkan di Kabah. Dengan demikian agama Nabi Ibrahim bercampur aduk dengan kepercayaan keberhalaan. Kemudian keyakinan terhadap Nabi Ibrahim itu telah benar-benar kalah oleh berhala.

Penyebab bangsa Arab menyembah batu atau berhala adalah karena saat itu siapa saja penduduk Mekah yang meninggalkan kota Mekah selalu membawa sebuah batu. Diambilnya batu-batu yang ada di sekitar Kabah. Dengan perbuatan itu mereka telah merasa dirinya terhormat dan cinta terhadap kota Mekah. Selanjutnya, ketika mereka berhenti atau menetap, diletakkannya batu itu dan mereka tawaf (mengelilingi) batu itu seolah telah mengelilingi Kabah. Sesungguhnya mereka masih tetap memuliakan Kabah dan kota Mekah, serta masih mengerjakan haji dan umrah, tetapi mereka telah beralih menyembah yang mereka sukai.

Berhala-berhala yang ada di negeri mereka dahulunya adalah batu yang dibawa dari Kabah (Mekah), yang kemudian mereka muliakan. Mereka juga mendirikan rumah-rumah untuk menempatkan batu berhalanya, sementara itu Kakbah masih tetap mempunyai kedudukan yang tinggi dan mulia.

Di antara berhala-berhala itu ada yang mereka pindahkan ke Kabah, yang akhirnya Kabah dipenuhi dengan berhala-berhala. Mereka tetap tidak lupa akan kedudukan Kabah yang mulia sehingga mereka tidak mau meletakkan batu-batu berhala itu di tempat yang lain, kecuali dekat dengan Kabah. Mereka juga tidak mau beribadah haji, kecuali hanya ke Mekah.

Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Aisyah mendengar Rasulullah Salallahualaihiwasalam bersabda, "Malam dan siang tidak akan hilang hingga Latta dan Uzza disembah." Aisyah berkata, "Ya Rasulullah, saya menyangka ketika Allah menurunkan ayat, "Dia-lah yang mengutuskan Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama kebenaran agar dia memenangkannya atas semua agama, walaupun semua orang-orang musyrik tidak menyukainya." maka itu telah selesai." Baginda bersabda "Hal itu akan terjadi sesuai dengan kehendak Allah, kemudian Allah menghembuskan angin yang sejuk lalu meninggallah semua orang yang dalam hatinya ada sebiji keimanan dan tinggallah orang-orang yang tidak memiliki kebaikan. Mereka lalu kembali kepada agama leluhur mereka.

Dalam hadits Abdullah bin Amr di dalam Shahih Muslim, Rasulullah Salallahualaihiwasalam menceritakan kepada kita apa yang akan terjadi setelah kewafatan Nabi Isa aalaihisalam diakhir zaman, "Kemudian Allah mengirimkan angin yang dingin dari arah Siria, sehingga tidak tersisa dimuka bumi seorang pun yang di dalam hatinya terdapat sebuti zarah kebaikan dan keimanan. Semuanya mati, bahkan kalau ada di antara mereka yang masuk ke dalam gunung, maka angin itu akan masuk kepadanya dan mencabut nyawanya." Abdullah bin Amr berkata, "Saya mendengar Rasulullah Salallahualaihiwasalam bersabda "Tinggallah orang-orang jahat dalam keringanan burung dan mimpi-mimpi binatang buas. Mereka tidak mengetahui kebaikan dan tidak menolak kemungkaran. Syaitan membuat peraturan dan berkata "Apakah kalian akan patuh?" Mereka menjawap "Apa yang Anda perintahkan?" Syaitan memerintahkan mereka untuk menyembah berhala. Pada waktu itu rezeki mereka melimpah ruah dan kehidupan mereka sejahtera. Kemudian ditiuplah sangkakala."

Diantara berhala yang disembah ialah, Dzulkhilshah, Thaghiyah Daus, Lata dan Uzza. Dalam Shahih al-Bukharidiriwayatkan dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah shalallahualaihiwasalam bersabda "Kiamat tidak akan terjadi sampai tangan dan kaki perempuan suku Daus menari dihadapan Dzulkhilshah, iaitu berhala yang disembah di zaman jahiliah. Latta dan Uzza ini dahulunya mereka adalah orang-orang sholih semasa hidupnya, namun setelah meninggal, orang-orang kemudian selangkah demi selangkah, sehasta demi sehasta mulai menjadikannya tuhan selain Allah. Mereka tidak serta merta menjadikan mereka sebagai tuhan, tetapi melalui serangkaian proses yang tanpa mereka sadari justru menjadi penyebab paling fatal : memuliakan kuburnya, tidak cukup dengan pergi ke kuburnya atau dengan alasan efisiensi dibuatlah Gambarnya. Seiring dengan berlalunya waktu dan bertambahnya teknologi, digantilah Gambar tersebut dengan Sebuah Patung yang mirip dengannya demikian seterusnya sampai pada puncaknya menjadikan kedudukan mereka melebihi Rosulullah Muhammad shalallohualaihiwasalam bahkan setara dengan Allah Subhanahuwataala dengan menjadikan mereka sebagai tempat bersandar dan tempat meminta pertolongan.

Berlebih-Lebihan Terhadap Kubur Orang-Orang Soleh Menjadi Penyebab Dijadikannya Sesembahan Selain Allah, Dan berikut nukilannya: Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dengan sanadnya dari sufyan dari Mansur dari Mujahid, berkaitan dengan ayat: “Jelaskan kepadaku (wahai kaum musyrikin) tentang (berhala yang kamu anggap sebagai anak perempuan Allah) Al Latta dan Al Uzza” (QS. An Najm, 19) Ia (Mujahid) berkata: “Al Latta adalah orang yang dahulunya tukang mengaduk tepung (dengan air atau minyak) untuk dihidangkan kepada jamaah haji. setelah meninggal, merekapun senantiasa mendatangi kuburnya.” Demikian pula penafsiran Ibnu Abbas r.a. sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnul Jauza': ” Dia itu pada mulanya adalah tukang mengaduk tepung untuk para jamaah haji.” Ini sama dengan asal muasal kesyirikan yakni penyembahan terhadap patung orang-orang sholih yang hidup pada jaman Nabi Nuh alaihissalam: Dan mereka berkata: “Janganlah sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian, dan janganlah pula kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan janganlah pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nashr.” (Nuh: 23) Di dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut: “Mereka adalah orang-orang shalih di kalangan kaum Nabi Nuh, lalu ketika mereka wafat syaithan mewahyukan kepada mereka (kaum Nabi Nuh) agar meletakkan patung-patung mereka (orang-orang shalih tersebut) pada majlis-majlis tempat yang biasa mereka duduk dan memberikan nama patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka, maka mereka pun melaksanakannya, namun pada saat itu belum disembah. Setelah mereka (generasi pertama tersebut) habis, dan telah terhapus ilmu-ilmu, barulah patung-patung itu disembah.”

Selain hal tersebut hari raya bertambah jumlahnya. Mungkin karena inspirasi dari agama lain yang merayakan pergantian tahun pakai kembang api, karena kreatif akhirnya dimodif pakai obor.

Inspirasi dari umat lain juga yang merayakan hari lahir perorangan, karena saking kreatifnya sehingga membuat sendiri perayaan kelahiran Nabi shalallahualaihiwasalam. Padahal beliau dan para sagabatnya tidak melakukannya.

Padahal tahu sendiri bahwa cuma ada dua hari raya saja dalam Islam, tidak ada yang lainnya, yaitu hari raya Idul Fithri (1 Syawal) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah). Jadi Islam tidak memperingati perayaan lainnya seperti kelahiran Nabi, tahun baru Islam atau tahun baru lainnya, tidak ada peringatan turunnya Al Qur’an atau yang menandakan Nabi melakukan peristiwa tertentu. Seharusnya seorang muslim atau yang baru merasakan Islam, mencukupkan dengan dua perayaan tersebut.


Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).
Kalau dikatakan bahwa dua hari raya di atas (Idul Fithri dan Idul Adha) yang lebih baik, maka selain dua hari raya tersebut tidaklah memiliki kebaikan. Sudah seharusnya setiap muslim mencukupkan dengan ajaran Islam yang ada, tidak perlu membuat perayaan baru selain itu. Karena Islam pun telah dikatakan sempurna, sebagaimana dalam ayat,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah: 3). Kalau ajaran Islam sudah sempurna, maka tidak perlu ada perayaan baru lagi.
Perayaan di luar dua perayaan di atas adalah perayaan Jahiliyah karena yang dimaksud ajaran jahiliyah adalah setiap ajaran yang menyelisihi ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sehingga merayakan perayaan selain perayaan Islam termasuk dalam sabda Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ ثَلاَثَةٌ مُلْحِدٌ فِى الْحَرَمِ ، وَمُبْتَغٍ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهَرِيقَ دَمَهُ
Manusia yang dibenci oleh Allah ada tiga: (1) seseorang yang berbuat kerusakan di tanah haram, (2) melakukan ajaran Jahiliyah dalam Islam, dan (3) ingin menumpahkan darah orang lain tanpa jalan yang benar.” (HR. Bukhari no. 6882).

0 Response to "Hari Raya Semakin Bertambah, Kok Bisa?"

Post a Comment

Ada Pertanyaan atau Komentar?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel