Durma Durma - Pusat Semangat

Durma


 
Senja
"Nem. Sinem!"
Suara melengking memecah kesunyian.
Tampak seorang perempuan berumur, sedang mondar-mandir di tengah ruangan dengan napas memburu.
Sinem, pemilik nama yang dipanggil tergopoh-gopoh menghampiri Juragannya yang terlihat gelisah.
"Wonten dawuh, Den."
"Hayu. Hayu di mana?" tanyanya perempuan yang dipanggil Den itu.
"Di nggandok tidak ada?" Perempuan bernama Sinem itu balik bertanya.
"Kalau ada aku tidak tanya to, Nem! Jiaan, kamu itu bikin aku tambah emosi saja!" gerutunya.
"Mohon maaf, Den putri," ucap Sinem sambil menunduk.
"Kalau cucuku nggak ketemu, kamu tak kremus!"
Sinem semakin menunduk. Dia merasa bersalah, karena terlena menjaga Hayu, cucu semata wayang Juragan Broto.
"Hayu tidak mungkin berani keluar sendiri," ucap Juragan putri, "ayo kita cari keluar, Nem!"
"Bawa senter, buat jaga-jaga. Sebelum Priyo dan Juragan kakung pulang, Hayu harus ketemu!"
Sinem tidak bersuara lagi. Dia bergegas melaksanakan perintah. Entah karena panik atau memang lupa menaruh, barang yang dicari seolah ditelan bumi.
"Duh gusti. Senter biasanya di sini kok ya tidak ada," keluh Sinem.
"Nem!" teriakan itu menambah kepanikan Sinem.
"Nggih, Den," jawab Sinem.
"Belum ketemu?"



Sinem menggelengkan kepala.
"Belum, Den."
"Wis ayo! Selak wengi!"
Juragan putri terlihat menyambar selendang, kemudian melilitkan ke leher. Tidak lupa baju panjang dan tebal untuk membungkus tubuhnya yang mulai menua.
Sinem pun segera mengikuti langkah Juragan putri. Tangannya bersedekap. Melindungi dada dari hawa dingin lereng Merapi.
"Regol e kok mbuka?" Juragan putri terkejut melihat pintu gerbang terbuka.
"Apa Wisnu lupa menutup? Tadi setelah Kang Tarso ambil mbako, saya minta Wisnu menutupnya," jelas Sinem.
Juragan putri tidak menggubris penjelasan rewangnya. Jarit yang biasa dipakai tidak bermasalah, kini terasa mengganggu. Dicincingkan jarit itu, dengan harapan langkahnya semakin lebar.
Halaman rumah yang begitu luas, menjadi sasaran kemarahan juga. Rasanya butuh waktu lama untuk sampai regol.
"Latar yo jembarmen!" gerutunya.
Regol yang terbuat dari jati alas, berdiri kokoh. Pintunya dicat dengan warna hijau daun. Diperindah dengan lis kuning.
"Hayu harusnya tidak bisa membuka regol ini sendiri," gumam juragan putri.
Sebuah kayu dengan diameter 10 cm, panjang 4 m, berfungsi sebagai palang pengunci regol.
"Hayu! Hayu!"
Tidak ada jawaban.
Sepi.
Sunyi.
Kebetulan beberapa pekarang sepanjang jalan itu dimiliki Juragan Broto, untuk ditanami pohon jati. Sehingga hanya sunyi yang menyambut teriakan Juragan putri dan Sinem.
Surup menjadi penanda pergantian siang ke malam. Waktu yang sebaiknya berdiam diri di rumah, demikian satu nasehat pernah dituturkan.
"Hayu! Hayu!"
Dua orang perempuan itu menyusuri jalan, hingga tidak terasa sudah di ujungnya.
"Hayu! Hayu!"
Teriakan-teriakan itu merambat di udara. Mengantarkan kepada sang empunya nama.
"Ada yang manggil aku," ucap Hayu. Gadis kecil berumur 5 tahun.
"Nah, kan. Itu mungkin simbahnya Den Hayu nyariin," ujar bocah laki-laki yang berada di samping Hayu.
"Mas Wisnu tadi nggak pamit Simbah?" tanya Hayu.
"Mboten. Tidak sempat. Den Hayu langsung jalan saja sih!" gerutu anak laki-laki yang bernama Wisnu.
"Tadi harusnya bilang dulu, Den. Biar Simbah tidak bingung," ucap Wisnu.
Kedua bocah itu duduk di cakruk, yang letaknya di jalan penghubung antar desa. Keberadaan Hayu dan Wisnu, tertangkap mata Sinem.
"Den ... itu! Itu Den Hayu, di cakruk!" seru Sinem kegirangan. Rewang itu segera berlari menghampiri Hayu dan Wisnu.
"Kamu to yang ngajak Den Hayu ke sini!" bentak Sinem kepada Wisnu.
"Tidak, Mbok. Den Hayu tadi minta dibukakan regol. Aku tidak tega lihat dia jalan sendiri" jelas Wisnu ketakutan, "mau nunggu ibu katanya."
Ternyata Wisnu bocah yang berumur 7 tahun itu adalah anaknya Sinem.
Anak laki-laki itu segera menjauh dari Hayu, begitu juragan putri terlihat mendekat.
"Oalah. Kalian berdua itu bikin pusing saja!" omel Juragan putri.
"Nyuwun ngapunten, Den. Katanya Wisnu diajak Den Hayu," jelas Sinem. Sementara Wisnu bersembunyi di belakang ibunya.
Juragan putri mengangguk.
"Yang penting sudah ketemu," ucap Juragan putri penuh kelegaan.
"Kenapa duduk di sini, Nduk?" tanya Juragan putri.
"Hayu nunggu Ibu datang, Mbah," jelas gadis kecil itu.
Tiba-tiba juragan putri yang dipanggil Simbah oleh Hayu trenyuh. Ada rasa sakit yang menyusup tanpa permisi.
"Hayu. Kalau surup seperti ini tidak boleh keluar rumah," pesan Juragan putri, "nanti kamu dibawa wewe gombel. Mau?"
Baru satu hari Hayu tinggal bersama Simbahnya di Selo, lereng gunung Merapi.
"Hayu nggak takut!" jawab bocah itu.
"Simbah yang takut kalau Hayu hilang. Nanti Mbah kakung sama Bapak juga sedih."
"Ibu juga sedih, Mbah?" tanya Hayu.
Perempuan itu hanya mengangguk.
Entahlah, Nduk, keluhnya dalam hati.
"Sekarang pulang dulu. Nanti masuk angin. Udaranya dingin sekali. Anginnya juga kencang."
"Hayu mau di sini! Nunggu Ibu pulang," pinta bocah berkulit putih itu.
"Hayu mau sakit?" tanya Juragan putri, "kalau sakit dibawa ke Pak Mantri lalu disuntik."
Gadis itu menggeleng. Sinem segera menurunkan Hayu dari cakruk. Menuntunnya pulang. Wisnu berjalan di belakang.
"Mbah, Bapak belum pulang?" tanya Hayu.
Perempuan yang ditanya hanya menggeleng. Butiran bening jatuh dari pelupuk matanya.
"Mbah," panggil Hayu, "kok diam?"
Simbah mengusap air matanya yang jatuh.
"Simbah nangis?" selidik Hayu. Perempuan itu menggeleng dan tersenyum.
"Hayu kedingingan tidak?" tanya Juragan putri.
Gadis itu menggeleng.
Sesampainya di rumah joglo bercat hijau itu, Sinem segera bertanya pada Juragan kecilnya.
"Den Hayu mau wedang jahe? Biar badannya hangat," ucap Sinem.
"Enggak, Mbok. Pedes," tolak gadis itu. Sinem mengangguk tersenyum.
"Saya ke belakang dulu, Den," pamit Sinem seraya menarik tangan Wisnu.
"Wisnu jangan kamu marahi lho, Nem!" perintah Juragan putri.
"Injih, Den."
Begitu sampai di pawon.
"Wisnu, besok lagi jangan mau ya diajak Den Hayu surup-surup keluar rumah!" pinta Sinem, "surup itu waktunya setan, genderuwo dan sebangsanya keluar."
"Aku sudah bilang tadi. Den Hayu maksa," jelas Wisnu, "Ibunya Den Hayu ke mana, Mbok?"
"Wis, jangan ikut-ikutan. Bukan urusan kita!" tegas Sinem.
Wisnu mengangguk. Bocah itu segera masuk ke kamarnya. Kamar yang berada di samping pawon. Di sana dia tidur berdua dengan Simboknya.
Wisnu sudah dianggap seperti cucu oleh Juragan Broto. Sebelum kedatangan Hayu, Wisnu menjadi penghiburan untuk pasangan suami istri ini.
Juragan Broto masih keturunan kraton. Dia juga kepala desa, meskipun sebentar lagi akan lengser jabatan. Simbah kakungnya Hayu salah satu petani tembakau yang berhasil. Tidak diragukan lagi, bagaimana status keluarga ini di tengah-tengah masyarakat.
Sementara itu di pendopo.
"Hayu makan dulu ya!" perintah Simbahnya.
Bocah itu mengangguk.
"Sama telur ceplok ya, Mbah," pinta Hayu, "tapi makannya nunggu Bapak sama Ibu saja."
"Nggak usah. Keburu ngantuk. Nanti kalau telat maem, perutmu sakit."
Kali ini Juragan putri tidak memanggil rewangnya. Beliau sendiri yang mengambilkan makan untuk cucunya. Sebenarnya itu alasan saja, agar Hayu tidak melihat air matanya yang hampir jatuh lagi.
"Lelakon hidupmu kok ya kayak gini to, Le," keluh Simbah.
"Den, kenapa?" tanya Sinem saat melihat juragan putrinya bicara sendiri.
"Cerita hidupnya Priyo itu lho, Nem."
"Semoga Den Priyo sabar dan ikhlas. Jembar manah dan penggalihipun," doa Sinem.
"Iya."
"Den Hayu mau makan? Biar saya ambilkan." Dengan cekatan Sinem mengambil piring dari tangan juragan putrinya. Membuka tudung saji, mengambil nasi putih dan sayur.
"Eh, Nem. Hayu minta telur ceplok," ucap Juragan putri.
"Oh, sebentar. Saya cethik geni dulu."
"Wisnu sudah makan belum? Sekalian digorengkan telur, Nem."
Sinem mengangguk. Hatinya begitu damai. Meskipun sekarang ada Hayu, tetapi sikap juragannya kepada Wisnu tidak berubah.
Aroma telur goreng menggoda indera pembau Hayu. Bocah itu berlari menuju pawon.
"Sudah matang, Mbah?" tanya Hayu.
Mata yang bulat itu terlihat berbinar. Hayu begitu menyukai telur ceplok. Bocah itu gampang sekali makan, asal lauknya telur.
"Sudah. Makan sendiri atau disuapin Simbah?"
"Kata Ibu, Hayu harus belajar makan sendiri," ucap Hayu santai.
Ngger, cucuku. Kenapa harus kamu ucapkan kata-kata yang membuat Simbah ini pilu, rintih Juragan putri dalam hati.
"Nem. Wisnu biar makan bareng Hayu. Panggilkan anakmu!" perintah Juragan putri.
Sinem segera membuka pintu kamar, didapatinya Wisnu sedang membaca buku.
"Disuruh makan sekarang, Le. Nemeni Den Hayu," pinta Sinem.
Wisnu mengangguk dan segera beranjak dari dipannya.
"Simbah, Bapak kok belum pulang? Kenapa lama sekali?" tanya Hayu.
"Mungkin urusannya belum selesai, Nduk."
"Ibu juga ikut ke sini, kan?"
Pertanyaan yang sulit dijawab Simbah.
"Semoga."
Hayu meneruskan makan, Wisnu terdiam. Namun, dalam hatinya perlahan tumbuh rasa ingin melindungi Juragan kecilnya.
Terdengar bunyi klakson mobil.
"Nem, sepertinya Priyo pulang."
"Biar saya saja, Den," sela Wisnu. Bocah itu bergegas berjalan untuk membuka regol.
"Bapak, Mbah?" tanya Hayu.
Simbah pun mengangguk. Seketika Hayu menghentikan makan dan berlari menyambut kedatangan orang tuanya.
Saat yang terlihat turun dari mobil hanya Simbah kakung dan Bapaknya, bocah kecil itu bertanya.
"Ibu mana?"
Simbah Kakung melewati Hayu dengan mengelus rambut.
"Nduk, cah ayu," ucapnya.
"Bapak, Ibu mana?" Hayu bersiap untuk menangis.
Wisnu melihat dari jauh.
Diam.
"Ayo masuk dulu. Dingin di sini," ajak Priyo, bapaknya Hayu.
"Nu, regolnya sudah dikunci?" tanya Priyo.
"Sampun, Den." Wisnu setengah berteriak menjawabnya.
Priyo menuntun putri kecilnya. Mengajak duduk di kursi.
"Ibu harus nemeni Eyang Solo dulu. Tadi Ibu pesan, Hayu harus nurut Bapak dan Simbah," ucap Priyo pelan, "kapan-kapan Ibu ke sini."
Sesungguhnya hati laki-laki itu perih, mendengar pertanyaan putrinya.
"Kapan?" tangis Hayu pecah. "Ibu janji mau datang sore. Tadi Hayu tungguin."
"Hayu mau nurut Bapak tidak?" tanya Priyo, "kalau nurut, Ibu pasti cepat ke sini."
Bocah 5 tahun itu sesenggukan. Dia ingin hari segera berganti, agar senja bisa segera datang. Dan, kembali menunggu ibunya.
Namun, senja tidak pernah indah lagi untuk Hayu. Ibu yang ditunggu tidak pernah hadir.
Hayu tidak pernah tahu, jika senja kemarin telah menelan janji seorang Ibu kepada anaknya.

(Bersambung)

Baca Selengkapnya

1 Response to "Durma"

Ada Pertanyaan atau Komentar?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel